Bedog Taraju merupakan senjata tradisional Sunda yang diproduksi secara turun-temurun sejak abad ke-18 di Desa Taraju, Kabupaten Kuningan, dan menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang mencerminkan etos kerja yang kuat, ketekunan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Namun, berkurangnya jumlah pengrajin, lemahnya pewarisan pengetahuan, dan minimnya dokumentasi visual semakin mengancam keberlangsungan warisan budaya ini. Penelitian ini bertujuan memvisualisasikan nilai-nilai kearifan lokal tersebut melalui fotografi dokumenter sekaligus merancangnya sebagai media informasi untuk memperkuat kesadaran budaya, khususnya bagi generasi muda berusia 16–30 tahun. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi visual. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, studi literatur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Proses perancangan menggunakan metode penyelesaian masalah Double Diamond Design Thinking yang mencakup tahap Discover, Define, Develop, dan Deliver, dengan alur produksi yang dibagi ke dalam tiga tahapan: pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Hasil analisis mengidentifikasi empat tema utama: kesabaran dan ketelitian, keselarasan dengan alam, solidaritas komunitas, dan keberlanjutan budaya. Karya yang dihasilkan berupa Visual Documentary Photobook dalam format Coffee Table Book berjudul "Bedog Taraju: Tradisi & Waktu," didukung oleh media pendukung meliputi cetak foto, booklet, poster, x-banner, video, dan microsite. Temuan penelitian menunjukkan bahwa fotografi dokumenter efektif dalam mengomunikasikan nilai-nilai budaya tak benda secara visual, sekaligus menjembatani kearifan lokal dengan kesadaran publik di era digital.
Bedog Taraju is a traditional Sundanese blade weapon produced across generations since the 18th century in Taraju Village, Kuningan Regency, embodying local wisdom values that reflect a strong work ethic, perseverance, and a harmonious relationship between humans and nature. However, the declining number of craftsmen, weak knowledge transmission, and limited visual documentation increasingly threaten the survival of this cultural heritage. This study aims to visualize these local wisdom values through documentary photography and to design them into an information medium that strengthens cultural awareness, particularly among the younger generation aged 16–30. The research employs a qualitative method with a visual ethnography approach. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, literature studies, and documentation, subsequently analyzed using thematic analysis. The design process applies the Double Diamond Design Thinking problem-solving method, encompassing the stages of Discover, Define, Develop, and Deliver, structured through three production phases: pre-production, production, and post-production. The analysis identified four main themes: patience and precision, harmony with nature, community solidarity, and cultural continuity. The resulting work is a Visual Documentary Photobook in Coffee Table Book format titled "Bedog Taraju: Tradisi & Waktu," supported by complementary media including print photos, a booklet, poster, x-banner, video, and a microsite. The findings demonstrate that documentary photography is effective in communicating intangible cultural values visually, bridging local wisdom and public awareness in the digital era.