Abstrak
Kesenian tradisional Sisingaan merupakan salah satu warisan budaya yang terkenal di Kabupaten Subang, Jawa Barat, dan menjadi simbol khas daerah tersebut. Secara historis, Sisingaan berfungsi sebagai pertunjukan seremonial untuk mengarak anak lakilaki yang akan disunat, disertai prosesi meriah dengan iringan musik. Seiring waktu, makna dan fungsi Sisingaan mengalami pergeseran, dari simbol perlawanan terhadap penjajah menjadi hiburan masyarakat. Pergeseran ini menyebabkan berkurangnya kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, terhadap nilai sejarahnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan merancang sebuah buku cerita bergambar sebagai media edukasi untuk melestarikan dan menyebarkan nilai sejarah Sisingaan sebagai simbol perlawanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa studi literatur, wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Proses perancangan melibatkan penggabungan narasi sejarah dan elemen visual ke dalam format cerita yang menarik, dengan sasaran pembaca berusia 8–9 tahun.
Hasilnya adalah buku cerita bergambar sebanyak 22 halaman yang mengombinasikan konten sejarah, representasi artistik, dan tema budaya yang relevan. Buku ini tidak hanya menjadi alat edukasi bagi masyarakat lokal, khususnya generasi muda, tetapi juga mendukung upaya pelestarian budaya. Diharapkan buku ini dapat meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Sisingaan dan perannya sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan di Kabupaten Subang.
Kata Kunci: Sisingaan, Kesenian Tradisional, Pelestarian Budaya, Buku Cerita
Bergambar, Simbol Perlawanan, Kabupaten Subang
Abstract
The Sisingaan traditional art is a well-known cultural heritage of Subang
Regency, West Java, often recognized as a symbol of the region. Historically, Sisingaan served as a ceremonial performance to escort boys undergoing circumcision rituals, featuring vibrant processions accompanied by music. Over time, the meaning and function of Sisingaan have shifted from being a symbol of resistance against colonial rule to a form of entertainment. This shift has led to a diminishing awareness of its historical significance, particularly among the younger generation.
This study aims to address this issue by creating a picture book as an educational medium to preserve and disseminate the historical value of Sisingaan as a symbol of resistance. The research employs a qualitative approach with data collection methods including literature review, interviews, observation, questionnaires, and documentation. The design process involves integrating historical narratives and visual elements into an engaging storytelling format, targeting readers aged 8–9 years.
The result is a 24-page illustrated book combining historical contents, artistic representations, and culturally relevant themes. This book not only serves as a tool to educate the local community, especially the youth, but also supports cultural preservation efforts. It is expected to inspire greater appreciation for the rich heritage of Sisingaan and its role as a symbol of resistance against colonialism in Subang Regency.
Keywords: Sisingaan, Traditional Art, Cultural Preservation, Picture Book,
Resistance Symbol, Subang Regency