Mural karya Brebes Artdictive x Tudgam pada dinding Pertokoan Siliwangi, Kabupaten Kuningan, merupakan bentuk komunikasi visual di ruang publik yang dikenal sebagai mural Dakor. Mural ini menampilkan dua siluet utama, yaitu Kuda dan Bokor, yang dipenuhi ilustrasi budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Kuningan. Walaupun diapresiasi secara estetis, makna visualnya belum banyak dipahami maupun dikaji secara akademik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi struktur tanda visual dan menganalisis makna yang terkandung dalam mural Dakor. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif interpretatif dengan pendekatan analisis formalistik sebagai dasar analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Tanda diklasifikasikan menjadi ikon, indeks, dan simbol melalui hubungan representamen, objek, dan interpretan. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi literatur, kemudian divalidasi menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mural Dakor memiliki struktur visual bergaya linocut dengan teknik kolase, tipografi, serta palet hitam-putih berkontras tinggi dalam komposisi asimetris dan simetris. Struktur tersebut membentuk tanda visual yang merepresentasikan identitas budaya, kearifan lokal, dan kondisi ekologis Kuningan. Mural Kuda merefleksikan ketegangan antara pembangunan dan ancaman lingkungan sebagai kritik terhadap ekosistem Gunung Ciremai, sedangkan mural Bokor melambangkan nilai budaya Seren Taun yang menekankan pentingnya pelestarian lingkungan melalui tindakan nyata. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi kajian Desain Komunikasi Visual berbasis seni lokal.
Kata Kunci : Mural, Brebes Ardictive x Tudgam, Makna Visual, Semiotika Peirce
The Dakor mural, created by Brebes Artdictive x Tudgam on the wall of Pertokoan Siliwangi in Kuningan Regency, is a form of visual communication displayed in public space. It features two dominant silhouettes, the Horse (Kuda) and the Bokor, filled with illustrations representing Kuningan's culture, environment, and local life. Despite its aesthetic appeal, the mural's symbolic meaning has received little academic attention. This study aims to identify its visual sign structure and interpret the meanings embedded within it. An interpretive descriptive qualitative method was applied using formalistic analysis as the basis for Charles Sanders Peirce's semiotic framework, classifying signs into icons, indexes, and symbols through the relationship between representamen, object, and interpretant. Data were collected through observation, documentation, semi-structured interviews, and literature review, while source triangulation ensured data credibility. The findings indicate that the mural employs linocut-style illustrations, collage techniques, typography, and a high-contrast black-and-white palette arranged in balanced and asymmetrical compositions. These visual elements represent Kuningan's cultural identity, local wisdom, and ecological conditions. The Horse mural criticizes environmental degradation caused by development around Mount Ciremai, whereas the Bokor mural emphasizes that traditions such as Seren Taun should inspire concrete environmental conservation. The study contributes to Visual Communication Design research rooted in local art.
Keyword : Mural, Brebes Artdictive x Tudgam, Visual Meaning, Peirce’s Semiotics