Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan primata dengan kemampuan adaptasi tinggi dan tersebar luas di seluruh Indonesia. Keberadaannya di dekat permukiman sering kali menimbulkan konflik, terutama di wilayah yang berbatasan dengan kawasan hutan. Di Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, gangguan yang disebabkan oleh monyet ekor panjang terhadap kawasan permukiman dan perkebunan warga telah terjadi sejak tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap monyet ekor panjang, mengidentifikasi dampaknya terhadap mata pencaharian warga, serta mengkaji upaya mitigasi yang telah dilakukan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2026 menggunakan desain kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi lapangan yang melibatkan 30 responden yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (56,6%) merasa khawatir dengan keberadaan monyet ekor panjang, dan 76,6% menganggapnya sebagai gangguan. Monyet-monyet tersebut menyebabkan kerusakan pada berbagai tanaman pertanian dan perkebunan, termasuk pisang, nangka, pepaya, dan singkong, yang secara langsung menurunkan hasil panen serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat. Gangguan terutama terjadi pada pagi dan sore hari, dengan intensitas yang meningkat selama musim panen. Upaya mitigasi yang dilakukan masyarakat masih bersifat jangka pendek dan konvensional seperti pengusiran langsung, pembungkusan buah dengan karung, serta pemasangan penghalang fisik dan belum terbukti efektif secara berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan strategi mitigasi yang lebih komprehensif dan berbasis masyarakat untuk mengurangi konflik antara manusia dan monyet ekor panjang dalam jangka panjang.
Kata kunci: Monyet Ekor Panjang, konflik manusia-satwa liar, mitigasi konflik, persepsi masyarakat
The Long-tailed Macaque (Macaca fascicularis) is a highly adaptable primate with a wide distribution across Indonesia. Its presence near human settlements frequently causes conflict, particularly in areas bordering forest zones. In Tonjong Village, Tonjong District, Brebes Regency, Central Java, disturbances caused by long-tailed macaques to residential areas and community plantations have been ongoing since 2018. This study aims to analyze community perceptions of the long-tailed macaque, identify the impacts on people's livelihoods, and examine the mitigation efforts that have been undertaken. The research was conducted from January to February 2026 using a descriptive quantitative design. Data were collected through interviews and field observations involving 30 respondents selected by purposive sampling. The results show that the majority of respondents (56.6%) expressed concern over the presence of long-tailed macaques, and 76.6% considered them a disturbance. The macaques caused damage to various agricultural and plantation crops, including bananas, jackfruit, papaya, and cassava, directly reducing harvest yields and causing economic losses for the community. Disturbances occurred primarily in the morning and afternoon, with intensity increasing during the harvest season. Mitigation efforts carried out by the community remain short-term and conventional in nature such as direct deterrence, wrapping fruits with sacks, and installing physical barriers and have not proven effective on a sustained basis. This study concludes that more comprehensive, community-based mitigation strategies are needed to reduce human–macaque conflict in the long term.
Keywords: Macaca fascicularis, human-wildlife conflict, conflict mitigation, community perception