Penelitian ini berjudul Toponimi Desa-Desa di Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka yang bertujuan untuk mendeskripsikan pola penamaan dan makna yang terkandung dalam nama-nama desa berdasarkan aspek toponimi. Toponimi merupakan cabang kajian linguistik yang mempelajari asal-usul, struktur, serta makna nama tempat, yang dalam konteks ini difokuskan pada satuan wilayah administratif tingkat desa. Kajian toponimi penting dilakukan sebagai bentuk dokumentasi terhadap warisan budaya takbenda yang hidup dalam masyarakat dan mencerminkan identitas kolektif yang terwujud melalui bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi lapangan, wawancara kepada tokoh masyarakat, dan dokumentasi. Objek penelitian mencakup 18 desa di wilayah Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan nama-nama desa berdasarkan aspek perwujudan, yakni unsur-unsur alam seperti kondisi geografis, flora, fauna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas nama desa di Kecamatan Maja memiliki keterkaitan erat dengan kondisi alam dan geografi lokal, seperti keberadaan sungai, hutan, atau bukit, yang mencerminkan orientasi ekologis masyarakat terhadap lingkungannya. Sebagian lainnya mengandung unsur budaya dan historis, seperti penghormatan terhadap tokoh pendiri desa atau peristiwa masa lampau yang berdampak besar bagi komunitas setempat. Dari 18 nama desa yang dianalisis, 13 di antaranya termasuk dalam kategori toponimi perwujudan alam, sedangkan 5 lainnya mengandung unsur kebudayaan dan kepercayaan masyarakat. Penelitian ini juga menemukan bahwa proses penamaan desa memiliki nilai edukatif dan fungsional, tidak hanya sebagai penanda geografis tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai lokal dan memori kolektif. Oleh karena itu, kajian toponimi tidak hanya memberikan kontribusi dalam bidang ilmu linguistik dan geografi budaya, tetapi juga mendukung upaya pelestarian bahasa daerah dan identitas budaya masyarakat setempat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam studi toponimi wilayah lain serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya makna di balik nama tempat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
This study is titled Toponymy of Villages in Maja District, Majalengka Regency, aiming to describe the naming patterns and meanings embedded in village names based on toponymic aspects. Toponymy is a branch of linguistic study that explores the origin, structure, and meaning of place names, which in this context focuses on administrative units at the village level. Toponymic studies are important as a means of documenting intangible cultural heritage that lives within communities and reflects collective identity manifested through language. This study employs a qualitative descriptive approach with data collection methods including literature review, field observation, interviews with community figures, and documentation. The research covers 18 villages in Maja District, Majalengka Regency, West Java. The analysis involves identifying and classifying village names based on their referential aspects, namely natural elements such as geographical conditions, flora, and fauna. The findings reveal that the majority of village names in Maja District are closely related to local natural and geographical conditions, such as rivers, forests, or hills, reflecting the community’s ecological orientation toward their environment. Others contain cultural and historical elements, such as honoring the village founders or referencing past events that had significant impact on the local community. Of the 18 village names analyzed, 13 fall into the category of natural toponymy, while the remaining 5 include cultural and belief-related elements. The study also finds that the naming process holds educational and functional value—not only serving as geographical markers but also as a medium for transmitting local values and collective memory. Therefore, toponymic studies contribute not only to the fields of linguistics and cultural geography but also support efforts to preserve regional languages and cultural identity. This research is expected to serve as a reference for toponymic studies in other regions and to raise public awareness of the significance behind place names that are an integral part of their daily lives.