Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan interaksi gangguan yang disebabkan oleh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) terhadap kegiatan pertanian masyarakat, serta untuk memahami faktor penyebab, persepsi dan respons masyarakat, dampak ekologis dan sosial, dan strategi mitigasi konflik yang diterapkan di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner dengan penduduk setempat yang terdampak konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% responden mengalami kerugian akibat serangan monyet ekor panjang, sedangkan 20% melaporkan terdampak parah. Bentuk gangguan yang paling umum adalah kerusakan tanaman pangan dan tanaman buah yang menjadi sumber utama pendapatan masyarakat. Faktor utama yang mendorong konflik ini meliputi peningkatan populasi kera ekor panjang, pengurangan sumber makanan alami, dan kedekatan habitat satwa liar dengan daerah pertanian dan permukiman. Persepsi masyarakat terhadap kera ekor panjang umumnya negatif, karena dianggap sebagai hama dan ancaman ekonomi. Dampak konflik ini meluas melampaui kerugian ekonomi, termasuk dampak sosial seperti peningkatan beban kerja dan waktu yang dihabiskan untuk menjaga lahan pertanian. Upaya mitigasi yang dilakukan oleh masyarakat meliputi pencegahan manual, pemasangan pagar, penggunaan alat pengusir suara, dan penjagaan bergilir. Strategi pengelolaan konflik berkelanjutan yang melibatkan kolaborasi antar masyarakat, lembaga pemerintah, dan organisasi konservasi diperlukan untuk menyeimbangkan kepentingan ekologis dan ekonomi di wilayah studi.
Kata kunci: kera ekor panjang, konflik manusia-satwa liar, persepsi masyarakat, dampak sosial-ekologis, strategi mitigasi
This study aims to analyze the forms and interactions of disturbances caused by long-tailed macaques (Macaca fascicularis) on community agricultural activities, as well as to understand the causal factors, community perceptions and responses, ecological and social impacts, and conflict mitigation strategies implemented in the field. The research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through field observations, interviews, and questionnaires with local residents affected by the conflict.The results showed that 80% of respondents experienced losses due to long-tailed macaque attacks, while 20% reported being severely affected. The most common form of disturbance was the destruction of crops and fruit plants that serve as the main sources of community income. The primary factors driving the conflict include the increasing macaque population, reduction of natural food sources, and the proximity of wildlife habitats to agricultural and residential areas. Community perceptions toward the macaques are generally negative, as they are considered pests and economic threats.The impacts of this conflict extend beyond economic losses, including social impacts such as increased workload and time spent guarding farms. Mitigation efforts undertaken by the community include manual deterrence, fence installation, the use of sound deterrents, and rotational guarding. Sustainable conflict management strategies involving collaboration among communities, government agencies, and conservation organizations are needed to balance ecological and economic interests in the study area
Keywords: long-tailed macaque, human-wildlife conflict, community perception, socio-ecological impact, mitigation strategy