Penelitian ini menganalisis kontribusi pola agroforestri terhadap pendapatan petani dan mengidentifikasi faktor-faktor sosial ekonomi yang memengaruhi variasi pendapatan di antara anggota Kelompok Tani Hutan Lestari di Desa Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Menggunakan purposive sampling, 35 petani dipilih, dan data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani mempraktikkan kombinasi agroforestri yang beragam dari tanaman kayu (sengon, jabon, mahoni, bambu, gmelina, jati), tanaman pangan (padi, jagung, singkong), dan tanaman hortikultura (cabai, jahe, kunyit, pisang, alpukat, dan lainnya), dengan pendapatan bersih tahunan dari agroforestri berkisar antara Rp3.633.500 hingga Rp23.887.500 dan total pendapatan rumah tangga (agroforestri dan non-agroforestri) berkisar antara Rp9.312.500 hingga Rp37.247.500. Rata-rata, agroforestri berkontribusi 62,65% terhadap pendapatan rumah tangga, sehingga menjadi sumber mata pencaharian utama. Hasil regresi menunjukkan bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap agroforestri dan pendapatan total, sementara pola agroforestri menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan, sedangkan usia, pendidikan, jumlah tanggungan, dan jumlah spesies tanaman tidak signifikan. Secara keseluruhan, model ini menjelaskan lebih dari 70% variasi pendapatan (R² = 0,700 untuk pendapatan agroforestri dan 0,713 untuk pendapatan total). Kesimpulannya, agroforestri memainkan peran penting dalam menopang mata pencaharian petani di Desa Pabuaran, tetapi variasi pendapatan sebagian besar dibentuk oleh luas lahan dan kombinasi tanaman, yang menyiratkan bahwa pemilihan pola yang tepat, didukung oleh layanan penyuluhan berkelanjutan dan kebijakan pemerintah daerah, sangat penting untuk mengoptimalkan pendapatan rumah tangga dan memastikan mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan berdasarkan pengelolaan hutan rakyat.
Kata kunci: agroforestri, pendapatan rumah tangga, luas lahan, faktor sosial ekonomi, mata pencaharian masyarakat, Desa Pabuaran.
This study analyzes the contribution of agroforestry patterns to farmers’ income and identifies socio-economic factors influencing income variation among members of the Lestari Forest Farmers Group in Pabuaran Village, Sukabumi Regency. Using purposive sampling, 35 farmers were selected, and data were obtained through field observations, structured interviews, and documentation, then analyzed with descriptive statistics and multiple linear regression. The results show that farmers practice diverse agroforestry combinations of timber crops (sengon, jabon, mahogany, bamboo, gmelina, teak), food crops (rice, corn, cassava), and horticultural crops (chili, ginger, turmeric, banana, avocado, and others), with annual net income from agroforestry ranging from IDR 3,633,500 to IDR 23,887,500 and total household income (agroforestry and non-agroforestry) ranging from IDR 9,312,500 to IDR 37,247,500. On average, agroforestry contributes 62.65% to household income, thus serving as the main livelihood source. Regression results indicate that land size positively and significantly affects both agroforestry and total income, while agroforestry patterns show a negative and significant effect, whereas age, education, number of dependents, and number of crop species are not significant. Overall, the model explains more than 70% of income variation (R² = 0.700 for agroforestry income and 0.713 for total income). In conclusion, agroforestry plays a crucial role in sustaining farmers’ livelihoods in Pabuaran Village, but income variation is largely shaped by land size and crop combinations, implying that proper pattern selection, supported by continuous extension services and local government policies, is essential to optimize household income and ensure sustainable community livelihoods based on private forest management.
Keywords: agroforestry, household income, land size, socio-economic factors, community livelihoods, Pabuaran Village.