Listiana, Devi
(2025)
EUFEMISME DAN DISFEMISME DALAM TWEET BERTAGAR #INDONESIAGELAP DI MEDIA SOSIAL X.
S1 / D3 thesis, Universitas Kuningan.
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ditemukannya eufemisme dan disfemisme dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap. Rumusan masalah: 1) Bagaimana bentuk eufemisme dan disfemisme yang digunakan dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap di media sosial X? 2) Bagaimana fungsi eufemisme dan disfemisme dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap di media sosial X? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk eufemisme dan disfemisme yang digunakan dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap di media sosial X dan menganalisis fungsi eufemisme dan disfemisme dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap di media sosial X. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi yang berupa tweet bertagar #IndonesiaGelap yang didalamnya terdapat eufemisme dan disfemisme. Untuk teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan data secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan fokus penelitian. Teknik analisis data meggunakan model Miles and Huberman yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari langkah-langkah tersebut, eufemisme dan disfemisme diklasifikasikan berdasarkan bentuk kata dan frasa. Adapun untuk fungsi eufemisme diklasifikasikan menjadi memperhalus ucapan, menyembunyikan informasi, sebagai alat diplomasi, sebagai sarana edukasi. Untuk fungsi disfemisme diklasifikasikan menjadi mempermalukan sesuatu atau orang lain, mengekspresikan kemarahan, menekankan suatu kondisi atau situasi, menggambarkan keadaan yang sangat buruk, mengungkapkan keheranan, dan mengekspresikan kegembiraan. Dari proses tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap ditemukan eufemisme sebanyak 50 kemunculan, dan disfemisme sebanyak 118 kemunculan. Dengan rincian eufemisme dalam bentuk kata sebanyak 6 kemunculan, eufemisme dalam bentuk frasa sebanyak 44 kemunculan, disfemisme dalam bentuk kata 19 kemunculan, dan disfemisme dalam bentuk frasa 99 kemunculan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan disfemisme lebih dominan dibandingkan eufemisme dalam tweet bertagar #IndonesiaGelap.
This research is motivated by the presence of euphemisms and dysphemisms in tweets using the hastag #IndonesiaGelap. The research problems are: 1) What are the forms of euphemism and dysphemism used in tweets with the hashtag #IndonesiaGelap on social media X? 2) What are the functions of euphemism and dysphemism in tweets with the hashtag #IndonesiaGelap on social media X? This study aims to describe the forms of euphemism and dysphemism used in tweets with the hashtag #IndonesiaGelap on social media X, and to analyze their functions. The research method used is descriptive qualitative, with data collected through documentation of tweets containing euphemism and dysphemism. The data collection technique employed is purposive sampling, in which data are selected deliberately based on certain criteria relevant to the research focus. The data analysis technique uses the Miles and Huberman model, which consists of three stages: data reduction, data display, and conclusion drawing. Through these steps, euphemisms and dysphemisms are classified based on their forms, either words or phrases. The functions of euphemisms are categorized into: softening expressions, concealing information, serving as a diplomatic tool, and functioning as an educational medium. Meanwhile, the functions of dysphemisms are classified into: humiliating something or someone, expressing anger, emphasizing a condition or situation, depicting a very poor state, expressing astonishment, and expressing joy. Based on this process, the results of the study show that there are 50 occurrences of euphemism and 118 occurrences of dysphemism in tweets with the hashtag #IndonesiaGelap. Specifically, euphemisms appear in word form 6 times and in phrase form 44 times; dysphemisms appear in word form 19 times and in phrase form 99 times. It can be concluded that dysphemism is more dominantly used than euphemism in tweets with the hashtag #IndonesiaGelap.
Actions (login required)

- View Item